Sejumlah Wartawan Aceh Timur Sesalkan Pernyataan Fuadi, Ini Penyebabnya

Fuadi aceh timur
Ketum AWAI, Dedi Saputra,. SH . (wacananews.co.id/han)

ACEH TIMUR, WacanaNews.co.id — Terkait pernyataan Fuadi yang merupakan warga Desa Meunasah Pu’uk, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur di salah satu media online sangat disesalkan oleh wartawan di Aceh Timur.

Fuadi mengatakan bahwa wartawan yang mengkonfirmasi narasumber tidak profesional apabila mengkonfirmasi narasumber melalaui handphone.

Ketua DPP Aliansi Wartawan Aceh Independen (AWAI) Dedi Saputra SH, sangat menyayangkan sikap dan ucapan saudara fuadi. Jika tidak mengerti kinerja wartawan setidaknya bisa bertanya kepada wartawan lain.

Lanjutnya, saudara Fuadi harus lebih banyak belajar mengenai jurnalistik ataupun bisa di lihat kinerja wartawan di atur dalam UUD pers No 40 tahun 1999. Tutup Ketum AWAI

Selanjutnya Bidang SIPOL ( Sivil Politik) LEKAAT ( Lembaga Komunikasi dan Advokasi Aceh Timur) T. Baharuddin yang juga berprofesi sebagai wartawan mengatakan bahwa di era global ini , masyarakat dunia telah memiliki teknologi komunikasi yang lebih maju salah satunya handphone.

Dengan adanya alat komunikasi berupa Handphone Justru sangat membantu para pekerja pers dalam mengkonfirmasi narasumber tanpa bertatap muka langsung,

“Handphone berfungsi sebagai alat komunikasi dan tidak ada larangan etik jurnalistik dalam menggunakan handphone dalam mengkonfirmasi narasumber. Jadi pernyataan Fuadi itu keliru dan Fuadi perlu belajar lagi terkait jurnalistik.

“Konon lagi bila mengkritik wartawan ditambah dengan tudingan dugaan adu domba itu sangat keji dan prematur. Kami telah mempelajari kinerja wartawan yang dimaksud oleh Fuadi. Wartawan yang dimaksud tersebut sudah benar dalam menjalankan fungsinya. Jadi Fuadi harus meminta maaf dalam penyataan yang asalan itu,” Pungkas T. Baharuddin yang akrap disapa Kopral kepada WacanaNews.co.id, Sabtu (4/6/2022).

Kopral menambahkan bila seseorang ingin mengkritik seorang lainnya haruslah bersifat objektif. Jangan karena ketidaksenangan kepada wartawan dan menganggu kepentingan pribadi sehingga mencari – cari celah mengkritik profesi wartawan yang sudah benar menjalankan fungsinya.

“Sekali lagi saya tegaskan kalau tidak faham jurnalistik maka belajarlah dulu. Jangan paksakan kehendak demi kepentingan pribadi sehingga tampak bodoh dan konyol dimata publik yang membaca pernyataan dia,” tutup T. Baharuddin. (han/w2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *