Rugi Ratusan Juta, Pedagang Pasar di Jombang Datangi Kantor Dewan

demo pedagang pasar peterongan
Sambil membawa poster, Pedagang pasar Peterongan Jombang saat Audiensi di ruang rapat paripurna DPRD Jombang.(wacananews.co.id/zan)

JOMBANG – Puluhan pedagang Pasar Peterongan Jombang Audiensi dengan DPRD Jombang. Mereka menuntut agar pemerintah membuka kembali aktivitas pasar secara normal.

Selama diberlakukan pembatasan di pasar tersebut, para pedang merugi hingga puluhan juta rupiah. Agar kerugian tidak berlanjut, mereka menuntut agar bisa berjualan secara Normal.

Bacaan Lainnya

Puluhan pedagang Pasar Peterongan ini diterima oleh anggota Komisi B DPRD Jombang. Proses mediasi dilakukan di dalam ruang rapat paripurna, dengan menghadirkan pihak Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang, Kamis (30/07/2020).

Salah satu pedagang Pasar Peterongan Abdul Haris (52) mengatakan, para pedagang mengeluhkan adanya pembatasan aktivitas perdagangan di Pasar Peterongan dua bulan terakhir ini.

“Yang dikeluhkan pedagang selama ini yaitu mereka ingin pasar peterongan segera dibuka secepatnya. Karena sudah dua bulan ini pasar ditutup. Sehingga perekonomian dan perdagangan mereka banyak yang tidak laku,” ujarnya saat diwawancarai di kantor DPRD Jombang.

Selama dua bulan, Pasar yang berlokasi di jalan Brawijaya, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan dibatasi dengan sistem ganjil-genap untuk para pedagang. Bahkan, pintu masuk pasar hanya dibuka satu pintu saja. Pembatasan tersebut dikarenakan adanya pedagang Pasar Peterongan yang terinfeksi virus corona beberapa waktu lalu.

Bahkan, Pasar Peterongan sempat ditutup 4 hari di awal bulan Juni lalu. Kondisi ini sangat berdampak pada aktivitas perdagangan di pasar tersebut. Banyak pedagang yang merasa rugi dengan kondisi Pasar Peterongan.

“Pembatasan satu pintu ini sangat berpengaruh pada pembeli. Sampai hari ini, pembelinya pun tidak yakin bahkan takut masuk ke pasar peterongan. Seakan-akan pasar peterongan menjadi momok tempat bersarangnya virus corona, padahal tidak,” kata Haris.

Sehari-hari dirinya berjualan pakaian di Pasar Peterongan. Dua bulan ini, dirinya mengaku merugi hingga Rp 100 juta. Tidak hanya itu, kata Haris, ada sekitar 30 pedagang sayur yang gulung tikar akibat adanya pembatasan di Pasar Peterongan.

“Yang saya alami, satu hari laku, lima hari tidak laku. Sebulan saya merugi sekitar Rp 50 juta, dua bulan ya Rp 100 juta. Bahkan yang gulung tikar ada 30 orang yang saya amati itu,” tandasnya.

Sementara itu,  Anggota Komisi B DPRD Jombang Rohmad Abidin. Ia mendukung keluhan yang disampaikan oleh para pedagang Pasar Peterongan. Legislator ini meminta agar pemerintah membuka seluruh pasar yang ada di Kabupaten Jombang, untuk mendukung bangkitnya perekonomian masyarakat.

“Prinsipnya begini, dewan sesuai kebijakan pemerintah bahwa ekonomi tetap harus berjalan di tengah covid-19 ini. Hanya saja harus menerapkan protokol kesehatan agar virus ini tidak meluas. Tetap kita dukung ekonomi ini tetap jalan, termasuk pasar,” ucapnya.

Disisi lain, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang Bambang Widjajanto mengatakan, pembatasan Pasar Peterongan ini dikarenakan adanya kasus covid-19 yang menginfeksi pedagang. Namun, ia tidak bisa menjelaskan secara rinci berapa total pedagang yang terinfeksi virus corona.

“Ya hampir satu bulan, semenjak ada pedagang yang positif. Nanti akan dibuka seperti semula, tapi tetap harus menerapkan protokol kesehatan. Nanti akan kita mulai 1 Agustus besok,” pungkasnya. (zan/w2)

Tinggalkan Balasan