Ketua FTBM NTT Polikarpus Do: Hari Buku Nasional Momentum Menyalakan Literasi dari NTT untuk Indonesia

FTBM NTT
Peringatan Hari Buku Nasional FTBM NTT. (istimewa)

ENDE, Wacananews.co.id — Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Nusa Tenggara Timur, Polikarpus Do, menyebut Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting untuk membangun dan menghidupkan budaya literasi di tengah masyarakat. Minggu, (17/5/26).

Menurut Polikarpus, peringatan Hari Buku Nasional yang bertepatan dengan momentum berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia harus dimaknai sebagai ajakan bersama untuk terus menumbuhkan kecintaan membaca dan menulis sejak dini, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah hingga masyarakat luas.

“Hari Buku Nasional menjadi momentum untuk terus menyalakan gerakan literasi. Literasi bukan hanya tugas sekolah atau komunitas tertentu, tetapi gerakan bersama untuk membangun generasi yang cerdas, mandiri dan berkarakter,” ujarnya, Sabtu (17/5/2026).

Ia menegaskan, melalui momentum tersebut masyarakat dapat menggelar berbagai aktivitas literasi seperti bedah buku, diskusi, gelar wicara, hingga kegiatan kreatif lainnya yang mampu mendorong tumbuhnya ruang-ruang edukatif dan inovatif di tengah masyarakat.

Polikarpus juga mengapresiasi peran media massa dan media sosial yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam mendukung pertumbuhan budaya literasi di NTT. Menurutnya, platform digital dapat menjadi sarana positif untuk mentransformasi masyarakat agar lebih aktif membaca, belajar dan berbagi pengetahuan.

“Media sosial harus menjadi tools untuk menumbuhkan budaya literasi. Ruang kreatif, ruang inovatif dan ruang edukatif harus terus bertumbuh melalui berbagai platform yang ada,” katanya.

Sebagai pemimpin gerakan literasi di NTT, Polikarpus mengatakan FTBM NTT terus menjalankan berbagai program rutin untuk memperkuat ekosistem literasi di daerah.

Program-program tersebut diarahkan untuk mewujudkan masyarakat NTT yang literat, memiliki kecakapan enam literasi dasar, keterampilan hidup, serta karakter yang kuat.
Menurutnya, kemampuan literasi yang memadai akan melahirkan generasi tangguh yang mampu bersaing dan menghadapi tantangan zaman.

“Dengan membaca kita menghidupkan diri dan memindahkan dunia ke dalam diri kita. Dengan menulis kita mewariskan ilmu pengetahuan, menjaga sejarah dan menata masa depan peradaban,” ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Polikarpus mengajak seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya generasi Z dan generasi milenial, untuk terus menjadikan buku sebagai sahabat belajar dan ruang intelektual dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga kita terus belajar, belajar dan terus belajar. Salam literasi,” tutupnya. (ykb/jal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *