PERISTIWA

Kadis Pariwisata Ende: Pesta Ende Street Festival 2026 Jadi Momentum Perkuat Persatuan dan Promosi Wisata Daerah, Warga Soroti Persoalan Riil Masyarakat

Ende, Wacanews.co.id – Pemerintah Kabupaten Ende melalui Dinas Pariwisata resmi menggelar Pesta Ende Street Festival Tahun 2026 sebagai rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.

Festival yang berlangsung mulai 28 Mei hingga 3 Juni 2026 itu diharapkan menjadi momentum memperkuat semangat persatuan, toleransi, pelestarian budaya, sekaligus mempromosikan Kabupaten Ende sebagai Kota Rahim Pancasila kepada Indonesia dan dunia internasional.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende, Mohamad Sahab, dalam laporannya menjelaskan bahwa penyelenggaraan festival bukan sekadar agenda hiburan dan seremoni tahunan, tetapi memiliki makna ideologis, historis, dan sosial bagi masyarakat Ende.

Mengawali laporannya, Mohamad Sahab menyinggung pentingnya sejarah sebagai fondasi kehidupan berbangsa. Ia mengutip ungkapan filsuf Romawi Cicero, “Historia Magistra Vitae”, yang berarti sejarah adalah guru kehidupan.

Menurutnya, Ende memiliki posisi sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia karena kota ini menjadi tempat perenungan Bung Karno saat merumuskan nilai-nilai dasar yang kemudian melahirkan Pancasila.

“Bung Karno pernah mengingatkan bangsa Indonesia melalui pidato Jas Merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Ende memiliki sejarah besar bagi bangsa Indonesia karena di kota inilah Bung Karno menemukan nilai-nilai luhur yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila,” ujarnya di hadapan tamu undangan dan masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.

Mohamad Sahab mengatakan, semangat itulah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Pesta Ende Street Festival 2026 sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah bangsa sekaligus upaya menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Festival tahun ini menghadirkan sejumlah agenda besar yang dipusatkan di berbagai titik strategis di Kota Ende.

Salah satu kegiatan utama adalah Pancasila Night yang menampilkan pertunjukan seni budaya dan pameran UMKM.

Pergelaran seni melibatkan siswa-siswi tingkat SD, SMP, hingga SMA, grup band lokal, sanggar seni masyarakat, komunitas kreatif, serta pelaku ekonomi kreatif daerah.

Sementara itu, pameran UMKM diikuti sebanyak 33 peserta yang terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah, industri kecil menengah, organisasi wanita, serta kelompok masyarakat lainnya yang menampilkan produk unggulan daerah.

Suasana pembukaan festival berlangsung meriah dengan penampilan seni budaya, alunan musik daerah, dan antusiasme masyarakat yang memadati arena kegiatan sejak sore hingga malam hari.

Selain Pancasila Night, panitia juga menggelar Parade Pancasila yang akan melintasi sejumlah situs sejarah penting di Kota Ende.

Parade dimulai dari Kantor Pelindo menuju Rumah Pengasingan Bung Karno, Serambi Soekarno, Makam Ibu Amsi, hingga berakhir di Taman Renungan Bung Karno.

Parade tersebut melibatkan unsur TNI-Polri, organisasi perangkat daerah, BUMN, BUMD, organisasi masyarakat, organisasi wanita, paguyuban etnis, organisasi kepemudaan, mahasiswa, pelajar, hingga kelompok masyarakat umum.

Dalam parade juga akan ditampilkan tokoh yang menyerupai Bung Karno dan Ibu Inggit Garnasih, pasukan drumband, pengusung lambang Garuda Pancasila, serta pembawa bendera Merah Putih sebagai simbol nasionalisme dan persatuan bangsa.

“Peringatan Hari Lahir Pancasila nantinya akan ditutup dengan tarian Gawi massal yang melibatkan sekitar 3.000 pelajar tingkat SMP dan SMA,” jelas Mohamad Sahab.

Kegiatan lainnya yang menjadi perhatian masyarakat adalah Pawai Obor yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 30 Mei 2026.

Pawai tersebut akan mengelilingi sejumlah ruas jalan utama Kota Ende dan berakhir di Monumen Pancasila.
Di lokasi finish, mahasiswa Universitas Flores akan menampilkan tonil karya Bung Karno yang mengangkat nilai perjuangan, kebangsaan, dan semangat persatuan.

Tidak hanya itu, semangat toleransi antarumat beragama juga menjadi bagian penting dalam festival tahun ini.

Panitia menggelar doa kebangsaan lintas agama yang melibatkan umat Katolik, Islam, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha.

Masing-masing umat akan melaksanakan kegiatan rohani di tempat ibadah mereka sebagai simbol keharmonisan dan persaudaraan masyarakat Ende yang hidup dalam keberagaman.

“Ini menunjukkan bahwa semangat Pancasila hidup dalam keberagaman masyarakat Ende,” katanya.

Pada bidang budaya, festival turut diramaikan dengan lomba Naro atau tarian adat Ende yang diikuti 10 sanggar seni dari wilayah adat Ende-Lio dan Nagekeo.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan tradisi Flores kepada generasi muda dan wisatawan.

Mohamad Sahab menjelaskan, tujuan utama penyelenggaraan Pesta Ende Street Festival 2026 adalah mengenang sejarah lahirnya Pancasila, memperkokoh persatuan dan toleransi, melestarikan budaya daerah, membuka ruang kreativitas generasi muda, mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM dan ekonomi kreatif, serta meningkatkan kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara ke Kabupaten Ende.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa Ende bukan hanya kota sejarah, tetapi juga kota budaya, kota toleransi, dan kota wisata,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival didukung melalui APBD Kabupaten Ende pada DPA Dinas Pariwisata Tahun 2026 dengan total anggaran sebesar Rp180 juta.

Di akhir laporannya, Mohamad Sahab meminta dukungan seluruh masyarakat agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman, lancar, tertib, dan sukses demi menjaga nama besar Ende sebagai Kota Rahim Pancasila.

Namun di tengah kemeriahan festival, sejumlah warga juga menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial dan pembangunan daerah yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan semangat Pancasila.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku menikmati suasana festival, penampilan seni budaya, alunan musik, dan pidato Bupati Ende yang penuh semangat.

Meski demikian, ia menilai suasana meriah tersebut terasa belum sepenuhnya menghadirkan kebahagiaan di tengah berbagai persoalan masyarakat yang belum terselesaikan.

Menurutnya, ketidakhadiran beberapa anggota DPRD dan sejumlah kepala dinas dalam acara pembukaan festival menimbulkan kesan kurangnya kekompakan di internal pemerintah daerah.

“Kalau dalam acara besar seperti ini saja banyak pejabat tidak hadir, masyarakat tentu bertanya-tanya soal kekompakan pemerintah. Padahal kekompakan itu penting untuk menyelesaikan persoalan rakyat,” ujarnya.

Warga tersebut juga menyoroti sejumlah persoalan yang hingga kini dinilai belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Ia menyebut longsor di perbatasan Kecamatan Detukeli dan Wewaria yang belum dibersihkan, rendahnya upah buruh, tenaga kontrak yang telah bekerja lebih dari lima tahun namun belum diangkat menjadi karyawan tetap, hingga kesulitan nelayan memperoleh bantuan pemerintah akibat persoalan administrasi.

Selain itu, ia juga menyinggung kondisi jalan berlubang, harga kebutuhan pokok yang terus naik, serta sejumlah kasus korupsi yang dinilai belum jelas penyelesaiannya.

“Lalu apa yang mau dibanggakan? Rakyat masih menghadapi banyak kesulitan,” katanya.

Menurutnya, perayaan Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni dan pencitraan semata, melainkan harus diwujudkan melalui keberpihakan nyata kepada masyarakat kecil seperti petani, nelayan, buruh, dan tukang ojek.

“Hari ini Pancasila dirayakan dengan pameran yang sifatnya sementara. Sementara petani, nelayan, buruh, dan tukang ojek tetap tidur malam memikirkan pekerjaan esok hari untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar nilai-nilai Pancasila tidak dijadikan sekadar simbol politik dan pencitraan budaya tanpa diiringi keadilan sosial dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

“Pancasila jangan sampai dipalsukan dengan pencitraan ekonomi, pencitraan agama, atau pencitraan budaya, sementara nilai keadilan dan kebijaksanaan justru semakin merosot,” ungkapnya.

Meski diwarnai kritik dan harapan masyarakat, Pesta Ende Street Festival 2026 tetap mendapat sambutan antusias dari warga yang memadati lokasi kegiatan.

Banyak masyarakat berharap momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga menjadi titik refleksi bersama untuk memperkuat persatuan, toleransi, dan kepedulian terhadap persoalan riil masyarakat Kabupaten Ende. (ykb/jal)

Tags: DPRD Ende ende Festival Hari Pancasila Hari Pancasila Pariwisata Ende