Jalan 4 Desa Mengenaskan di Ende, Warga Kecawa Dengan Pemerintah

Kondisi jalan penghubung 4 Desa yang ada di Kabupaten Ende.(wacananews.co.id/ms)
Kondisi jalan penghubung 4 Desa yang ada di Kabupaten Ende.(wacananews.co.id/ms)

ENDE – Ada sekitar 4 jalan Penghubung Desa di Kabupaten Ende yang kondisinya tidak layak tidak pernah mendapatkan sentuhan dari Pemerintah. Warga Ende merasa kecawa dengan kinerja Pemerintah.

Yanto Woda (25) warga dari Kecamatan Lepe Mbusu Kelisoke (Lepkes) Kabupaten Ende, merasa kecewa dengan kinerja Pemerintah Indonesia lantaran jalan ada 4 jalan penghhubung antar Desa tidak pernah ada perbaikan sejak Indonesia belum merdeka.

Bacaan Lainnya

Ke empat desa tersebut diantaranya Desa Tani Woda, Rutujeja, Detuara dan desa Tiwu Sora dengan ribuan jumlah penduduk. Terdapat komoditi unggulan yang di hasilkan desa tersebut yang dijual untuk pemenuhan kebutuhan hidup.

Namun sayang oleh karena jalan rusak parah, terpaksa menjual dengan harga yang sangat murah. Kepada wacananews.co.id ia menyampaikan, tiap tahunya saat hujan turun jalan itu ditutupi dengan batu dan rawan longsor sehingga kendaraan tidak dapat melintasinya. Saat terjadi longsor hanya masyarkat desa itu sendirilah yang memperbaikinya, tanpa campur tangan pemerintah.

“Kalau longsor biasanya masyarakat 3 desa (Taniwoda, Rutu jeja dan Detuara) yang meperbaikinya karena lebih dekat dengan tempat kejadian itu”. tutur Yanto.

Ia mengatakan, arus lalu lintas disana cukup rame, akibat dari tutuntan pemerintah untuk mengurus Admistrasi Negara.

“Kami biasanya pergi ke Kota Ende untuk mengurus data penduduk, menjual komoditi, pergi sekolah, berobat dan urusan lainya harus putar balik lewat Kota Baru, Kecamatan yang berada diujung timur dan jarak tempuhnya lebih jauh jikalau lurus melintasi jalan utama”, jelasnya.

Bahkan masyarakat Desa Lise Lande, Kecamatan Kota Baru, menuju Ende seringkali lewat Lepkes karena lebih dekat jarak tempuhnya dibandingkan dengan Kota Baru, tambahnya.

Ia menyebut kecewa dengan pemerintah Indonesia karena merasa belum mendapat kemerdekaan yang seusungnya.

“Dimanakah Indonesia yang sosialis, toh sejak 75 tahun masih merasakan kesulitan transportasi? Apa kah kami yang dilahirkan di diatas gunung bukan Indonesia?”, keluhnya.

Kami berharap sedikit saja ada sentuhan perhatian oleh Pemerintah terhadap anak bangsa ini, pungkasnya.(ms/w2)

Tinggalkan Balasan