Grafis  

Buah Pala Menjadi Komoditas Ekspor Terlaris Dari Indonesia, Berikut Sejarah dan Manfaatnya

buah pala
Buah Pala. (istimewa)

GRAFIS, WacanaNews.co.id — Buah Pala, Komoditas rempah ekspor terlaris dari Indonesia. Tahukah Anda apa ini bagaimana sejarahnya dan Mengapa disebut sebagai rempah terlaris anda ingin tahu lebih banyak tentang buah Pala.

Indonesia timur memang identik dengan rempah. Anda pasti ingat itu karena berulang kali disebutkan dalam buku sejarah, Pala telah menjadi urat nadi perekonomian masyarakat. Sejak dulu tanaman Pala memiliki sejarah panjang sebagai emas hijau nusantara yang diperebutkan oleh negara-negara di dunia.

Meskipun pada saat itu biji Pala Banda telah disebarkan di beberapa negara oleh kolonial Inggris pada saat pendudukannya. Namun Pala tetapi dianggap sebagai buah emas endemis Indonesia. Hingga kini Pala Indonesia menjadi mercusuar rempah bagi negara-negara di dunia.

Berbicara tentang Pala tak lepas dengan cerita kedatangan Portugis menjajah Indonesia pada tahun 1511. Mereka menaklukkan Malaka dan mengincar rempah-rempah seperti Pala dan Cengkeh. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16 di Maluku juga dilatarbelakangi oleh ambisi kekuasaan terhadap daerah penghasil rempah.

Harga pala pada waktu itu cukup menggiurkan setara dengan emas. Siapa yang tak tergiur, Pala banyak ditemukan di Pulau Banda dan menjadi sumber kehidupan bagi warga. Pala kemungkinan salah satu tempat yang berevolusi di Belanda selama berabad-abad lamanya.

Pada awal 1600-an VOC berhasil menguasai Banda dan memaksakan monopoli terhadap Pala. Pada tahun 1616 Inggris juga datang dengan niat yang sama, Pala dikenalkan ke daerah jajahan Inggris di Asia salah satunya benang guna menghancurkan monopoli Belanda. Perebutan ini pun berlangsung cukup lama karena monopoli perdagangan Pala dan bunganya baru berakhir pada tahun 1860.

Wah pernah Senjaya itu ya rempah Indonesia, lalu apa kabar Pala Indonesia hari ini apakah sebaik-baik saja. Indonesia masih menjadi salah satu penghasil Pala terbesar di dunia. Selain guatemalah, India, Nepal dan Laos, pada tahun 2015 produksi pala di Indonesia mencapai kurang lebih 33.000 ton dengan luas area tanam kurang lebih 168 hektar.

Maluku dan Papua menjadi sentral pala terbesar, disusun Aceh dan Sulawesi Utara. Pala juga masih menjadi komoditas ekspor unggulan. Berdasarkan data di restoran Jenderal perkebunan perkembangan volume ekspor Pala Indonesia selama periode 1980 hingga 2015 namun cenderung meningkat. Pada tahun 2015 dengan nilai kurang lebih 100,141 juta US Dollar.

Tahun 2020 tercatat nilai ekspor pala Indonesia sebesar 22,821 ton, dengan nilai sebesar kurang lebih 158,42 juta dolar Amerika. Penguasaan kepala Indonesia di pasar dunia cukup terbilang baik. Indonesia masih dianggap sebagai produsen dan eksportir biji serta kulit Pala terkemuka di dunia. Dengan penguasaan pasar mencapai 75%.

Aroma dan cita rasa Pala Indonesia yang khas serta rendemen minyak yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri bagi pasar luar negeri khususnya Eropa. Di tengah lalu lintas ekspor yang kian meningkat kasus pencemaran residu alfatosin pada biji Pala menjadi pemicu penolakan oleh importir.

Sehingga mengakibatkan kerugian negara serta berkurangnya nilai devisa kalau, Indonesia terkontaminasi alfatosin meski diminati sejak 2009. Pala Indonesia mengalami beberapa kali penolakan dari Uni Eropa. Bahkan pada tahun 2016 hingga 2017 terjadi sekitar 31 kali penolakan ekspor Pala.

Masalahnya ada pada kualitas dan standar mutu komoditas, kabarnya kepala Indonesia berkontaminasi alphatoksin dalam jumlah yang melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan. Lalu apa itu alfatoksin, alfatoksin merupakan metabolit sekunder cendawan yang bersifat toksik pada manusia dan hewan. Alfatoksin dapat merusak hati menyebabkan kanker hati perubahan genetik permanen dan menimbulkan kelainan.

Anatomis terkait kandungan alfatoksin dalam Pala Indonesia, Uni Eropa telah menetapkan regulasi. Uni Eropa yang diberlakukan sejak Februari 2016 regulasi tersebut mewajibkan ekspor pala dari Indonesia dilengkapi dengan sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh otoritas kompeten di Indonesia.

Alfatoksin sebenarnya berkaitan dengan penanganan pasca panen, perlu diketahui lebih dari 90% valak Indonesia dihasilkan dari perkebunan rakyat dengan penanganan pasca panen yang masih tradisional peralatan sederhana dan minim teknologi.

Tentu hal ini akan mempengaruhi kualitas Pala yang dihasilkan, cendawan penghasil alfatoksin dapat tumbuh pada komoditas Pala akibat penanganan pasca panen yang kurang tepat, seperti kurangnya higienitas, pengeringan dan kondisi penyimpanan. Apalagi iklim tropis Indonesia menyebabkan cendawan mudah tumbuh pada komoditas hasil pertanian.

Lalu bagaimana solusinya, menyelesaikan masalah kualitas dari hulu sampai ke hilir petani harus dikenalkan dengan cultural praktis sistem sertifikasi dalam praktek budidaya tanaman yang baik sesuai standar yang ditentukan. Standar proses produksi pertanian dengan teknologi maju ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sehingga menghasilkan produk panen yang aman dikonsumsi dengan memperhatikan kesejahteraan pekerja dan petani. Bagaimana dengan di hilir, dibutuhkan peran pemerintah untuk menyelesaikan masalah ekspor pala di hilir. Karantina Pertanian sebagai instansi border bertanggung jawab dalam memastikan pala yang akan diekspor setelah sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

Menyelesaikan masalah siapa bilang mudah, namun harus terus diupayakan untuk mengembalikan kejayaan rempah indonesia. Lalu bagaimana pala digunakan, Pala sendiri punya sejarah kuliner yang panjang dan bisa digunakan di makanan manis dan juga asin. Di Amerika Serikat salah satu penggunaan adalah makanan penutup juga digunakan dalam banyak minuman seperti anggur, berempah atau hiasan di atas kopi dengan busa di atasnya.

Pala juga bisa digunakan sebagai perasa pada daging dan seringkali menjadi salah satu bumbu dalam sajian yang menggunakan campuran rempah lainnya seperti garam atau Karis. Di Indonesia selain biji pala kita juga memanfaatkan daging buah pala yang banyak dibuat menjadi manisan basah dan manisan kering.

Selain itu daging pala juga banyak diolah menjadi Jelly, sirup, dodol selain sari buah dan masih banyak lagi. Selain daging dan biji yang diolah menjadi makanan dan minuman. Bagian dari tanaman Pala juga banyak digunakan sebagai bahan perasa pada kue kue kering my toping dan juga sebagai bumbu makanan laut juga bermanfaat jadi obat-obatan tradisional dalam dosis rendah.

Pala bisa digunakan untuk mengurangi kembung perut, meningkatkan daya cerna dan selera makan, diare, muntah bahkan mual. Ternyata selain Laris Manis juga memiliki banyak manfaat yang di hasilkan dari buah Pala. (pras/jal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *