ENDE, WacanaNews.co.id – Memasuki hari ke-23 masa tanggap darurat pascagempa di Kabupaten Ende, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Ende, Marselus Ekleanus Meta melaporkan bahwa penyaluran bantuan sembako telah menjangkau seluruh desa di wilayah tersebut, Senin, (07/09/26).
Cakupan Penyaluran Sembako
Sampai saat ini, dari total 10.852 KK yang dilaporkan terdampak gempa, BPBD Ende telah menyalurkan lebih dari 12.000 paket sembako. Artinya, seluruh korban yang dilaporkan telah terjangkau bantuan.
“Secara umum semua korban yang dilaporkan sudah dijangkau. Memang ada satu-dua kasus terlewat karena koordinasi di tingkat bawah yang belum maksimal, namun kami libatkan relawan — termasuk Relawan Gesit dan Red Boys — untuk mengisi celah tersebut. Dari laporan Camat dan Kepala Desa, seluruh 278 Desa dan Kelurahan sudah tercover semua.” ujar Kalak BPBD Ende.
Marselinus pun mengatakan Karena gempa bersifat sporadis dan menyebar luas — titik kerusakan kecil-kecil di setiap desa dan dusun — penyaluran tidak bisa dilakukan secara masif. Mekanisme yang diterapkan:
– Pelibatan kekuatan BPBD, TNI, Polri, SAR, dan relawan
– Penyerahan bantuan di tingkat kecamatan dan desa untuk didistribusikan lebih lanjut
– Pemberian biaya transportasi: Rp250.000 untuk desa jauh, Rp150.000 untuk wilayah dalam kota
“Kendala terbesar adalah penyebaran titik kerusakan yang sangat merata. Data awal juga terbatas karena jaringan telekomunikasi hanya bertahan sekitar satu jam pascagempa sebelum padam total. Namun tim reaksi cepat tetap turun bekerja meski komunikasi terbatas.” Terang Marselus.
Skema Penyaluran ke Depan
Bantuan beras cadangan pemerintah yang disetujui BNPB sebanyak 277 ton akan disalurkan bertahap berdasarkan data keluarga terdampak. Penyaluran akan bergeser dari wilayah terdampak terbanyak ke wilayah lain, termasuk Ende Timur. Bantuan baru dari BNPB juga baru tiba dan akan segera didistribusikan.
“Selain nama yang sudah terdata, masyarakat yang belum tercatat masih bisa diusulkan. Namun 277 ton ini fokus berdasarkan jumlah jiwa dalam KK yang sudah dilaporkan.” Jelas Kalak BPBD.
Status Pengungsian: Posko Komunal Dihentikan
Masyarakat sering bertanya mengapa data pengungsi tercatat nol, namun masih terlihat posko pengungsian komunal berdiri. Kalak BPBD menjelaskan:
“Definisi pengungsi adalah orang yang rumahnya rusak atau terancam. Hanya 5 KK yang rusak berat, namun di Nioniba tercatat 400 jiwa di posko komunal. Ini sebagian besar karena trauma. Kami sudah mendorong warga yang rumahnya rusak sedang hingga ringan untuk kembali ke rumah, karena bangunan yang retak pun masih aman digunakan untuk beraktivitas.”
Posko pengungsian komunal telah dihentikan. Bantuan kini disalurkan langsung ke rumah masing-masing melalui Kepala Desa. Bantuan tetap diberikan untuk yang rumah rusak berat dan sedang.
Anggaran BTT APBD
Dari anggaran Bantuan Tak Terduga (BTT) APBD, tahap pertama sebesar Rp1,4 miliar telah direalisasikan dan dibagikan ke seluruh OPD terkait. BPBD sendiri menerima sekitar Rp400 juta. Pengajuan tahap ketiga sedang disiapkan, dengan fokus utama kini beralih ke pelayanan psikososial dan trauma healing.
Verifikasi Data Kerusakan
Dari data awal 10.936 rumah terdampak, tim verifikasi lapangan terus bekerja. Hingga saat ini sekitar 3.000 unit rumah telah diverifikasi. Hasil sementara menunjukkan jumlah rumah rusak berat jauh lebih sedikit dari laporan awal — sekitar 300-an KK. Verifikasi ini penting karena menentukan jenis bantuan:
– Rusak Berat: Rumah sementara (huntara)
– Rusak Sedang: Stimulan Rp3 juta
“Ada kasus di Nangapenda yang dilaporkan rusak berat, ternyata setelah diverifikasi masuk kategori sedang — maka huntara tidak bisa diberikan, hanya stimulan Rp3 juta. Ini penting agar bantuan tepat sasaran.”
Pentahelix: Semua Pihak Terlibat
Penyaluran bantuan melibatkan lima unsur Pentahelix — pemerintah, TNI/Polri, akademisi, pelaku usaha, dan relawan. Bupati, Wakil Bupati, dan anggota DPR juga turun menyalurkan bantuan, namun tidak atas nama pribadi atau partai politik. Beberapa partai politik menyalurkan donasi mereka secara terpisah, dan hal ini dihargai sebagai bentuk dukungan bersama.
“Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab semua pihak. Mari kita terus bergotong royong hingga warga benar-benar pulih kembali.” — tutup Kalak BPBD Ende. (yms/pras)






