Pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum Soroti Eskalasi Konflik AS–Iran

gus hans
Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum, KH Zahrul Azhar Asumta atau yang akrab disapa Gus Hans. (istimewa)

JOMBANG, WacanaNews.co.id -– Pengasuh Pondok Pesantren Queen Al Azhar Darul Ulum, KH Zahrul Azhar Asumta atau yang akrab disapa Gus Hans, menyampaikan sikapnya terkait meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi mengganggu stabilitas dunia dan perlu menjadi perhatian masyarakat internasional.

Dalam keterangannya kepada awak media di Jombang, Gus Hans menegaskan bahwa sikap yang ia sampaikan tidak didasari sentimen agama atau mazhab tertentu. Menurutnya, persoalan ini harus dilihat dari sudut pandang kemanusiaan serta penghormatan terhadap kedaulatan suatu negara.

“Setiap tindakan yang berpotensi mengganggu perdamaian dunia patut kita kritisi. Ini bukan soal agama, tetapi tentang kemanusiaan dan penghormatan terhadap kedaulatan suatu bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik geopolitik yang terus meningkat dapat menimbulkan dampak luas bagi stabilitas kawasan lain, termasuk Asia Tenggara. Karena itu, menurutnya, negara-negara di kawasan ASEAN perlu tetap menjaga stabilitas dan tidak terdampak secara langsung oleh dinamika konflik global.

Soroti Posisi Indonesia dalam Diplomasi Global
Sebagai alumnus Hubungan Internasional, Gus Hans juga memberikan pandangannya mengenai posisi Indonesia dalam percaturan diplomasi dunia. Ia menyinggung partisipasi Indonesia dalam forum Deal of Peace (DoP) yang menurutnya perlu dievaluasi secara realistis.

Menurutnya, Indonesia perlu mengukur kembali sejauh mana pengaruh nyata yang dapat diberikan dalam konflik besar di kawasan Timur Tengah.

“Saya melihat Indonesia belum memiliki daya tawar yang cukup kuat untuk memengaruhi konflik besar seperti yang terjadi di Timur Tengah. Diplomasi perlu dihitung secara matang agar sejalan dengan kepentingan nasional,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa setiap langkah diplomasi internasional seharusnya memiliki dampak konkret, bukan sekadar simbolik.

Dorong Evaluasi Keterlibatan Indonesia
Secara pribadi, Gus Hans mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap keterlibatan Indonesia dalam forum Deal of Peace. Menurutnya, beberapa indikator menunjukkan perlunya peninjauan kembali terhadap efektivitas forum tersebut.

Beberapa hal yang ia soroti antara lain:
Inkonsistensi komitmen perdamaian yang dinilai tidak selalu sejalan dengan realitas di lapangan.
Minimnya pengaruh nyata dalam meredam konflik global.
Munculnya eskalasi konflik terbaru yang justru bertolak belakang dengan semangat perdamaian.

Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai situasi yang lebih menyerupai “Break of Peace”.
“Jika ditanya secara pribadi, saya cenderung melihat Indonesia perlu mengevaluasi kembali keterlibatan dalam forum tersebut. Keikutsertaan harus memberikan manfaat nyata bagi kepentingan bangsa,” tegasnya.
Kembali pada Prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Meski demikian, Gus Hans tetap menegaskan pentingnya Indonesia berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Menurutnya, Indonesia tetap harus berperan dalam upaya perdamaian dunia, namun tidak terjebak dalam aliansi yang tidak memberikan manfaat strategis bagi kedaulatan negara.

Ia berharap diplomasi Indonesia ke depan dapat lebih fokus pada upaya konkret dalam menjaga stabilitas kawasan serta memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tingkat global. (vvn/jal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *