Opini

Momentum Ikhlas Melepas

OPINI, WacanaNews.co.id — Ada bulan-bulan yang lewat begitu saja dalam hidup manusia. Datang, lalu hilang tanpa meninggalkan bekas selain angka di kalender. Tetapi Dzulhijah terasa berbeda. Ada suasana batin yang lebih hening sekaligus lebih dalam. Seolah bulan ini tidak hadir sekadar untuk dirayakan, melainkan untuk mengajak manusia bercermin pada dirinya sendiri.

Di sepuluh hari pertamanya, manusia diajak memperlambat langkah. Amal-amal kecil terasa lebih bermakna. Dzikir menjadi lebih menghangatkan hati. Doa terasa lebih dekat dengan langit. Dalam tradisi Islam, Dzulhijah memang bukan hanya bulan ritual, tetapi bulan penyerahan diri—bulan ketika manusia belajar kembali tentang makna melepas. Dan mungkin, di tengah dunia modern yang mengajarkan manusia untuk terus memiliki, terus mengumpulkan, terus menggenggam, pelajaran tentang melepaskan justru menjadi sesuatu yang paling sulit dipraktikkan.

Di bulan ini, dua ibadah besar berdiri berdampingan: Haji dan Qurban. Keduanya berbicara tentang tema yang sama—tentang keberanian meninggalkan ego dan kerelaan merelakan apa yang paling dicintai. Namun menariknya, pesan spiritual ini juga memiliki resonansi kuat dalam ilmu psikologi manusia maupun teori perkembangan sosial modern.

Perjalanan Menuju Titik Nol
Setiap tahun, jutaan manusia datang ke tanah suci membawa identitas masing-masing. Ada pejabat, pengusaha, dosen, petani, buruh, hingga orang biasa yang menabung puluhan tahun demi bisa berdiri di hadapan Ka’bah. Tetapi ketika ihram dikenakan, semua simbol sosial perlahan runtuh. Tidak ada lagi pakaian kebanggaan, jabatan, ataupun status yang benar-benar dapat dibanggakan. Dalam perspektif psikologi perkembangan, pengalaman semacam ini sesungguhnya sangat dekat dengan gagasan Abraham Maslow tentang self-transcendence. Pada tahap perkembangan tertinggi manusia, seseorang tidak lagi hidup semata untuk pengakuan sosial atau pemenuhan ego pribadi, melainkan mulai melampaui dirinya sendiri menuju makna yang lebih besar.

Modernitas sering mendorong manusia terjebak pada apa yang disebut Erich Fromm sebagai having mode—cara hidup yang berpusat pada kepemilikan: memiliki harta, status, citra, dan pengaruh. Akibatnya, identitas manusia menjadi rapuh karena terlalu bergantung pada validasi luar. Ketika jabatan hilang, pujian berkurang, atau kehidupan tidak berjalan sesuai rencana, manusia mudah mengalami kecemasan eksistensial.

Di titik inilah Haji menghadirkan kritik sunyi terhadap peradaban modern. Ihram seolah mengembalikan manusia pada bentuk paling dasar dirinya: makhluk yang rapuh, fana, dan setara. Di Arafah, jutaan manusia berdiri tanpa sekat sosial. Semua memohon dengan cara yang sama. Semua menangis dengan bahasa yang sama: bahasa ketidakberdayaan. Secara psikologis, pengalaman spiritual kolektif seperti ini dapat memunculkan apa yang disebut Viktor Frankl sebagai meaning reconstruction—proses ketika manusia menata ulang makna hidupnya setelah menyadari keterbatasan diri. Haji bukan sekadar perjalanan geografis menuju Makkah, tetapi perjalanan eksistensial menuju titik nol kemanusiaan.

Dan bukankah manusia modern memang sedang lelah mempertahankan terlalu banyak topeng?, Kita hidup di era ketika citra sering lebih penting daripada kejujuran. Media sosial membuat banyak orang sibuk terlihat bahagia, terlihat sukses, terlihat kuat, meskipun diam-diam rapuh. Kita takut gagal, takut dianggap biasa, takut kehilangan pengakuan. Padahal, sebagaimana diingatkan Dzulhijah, pada akhirnya manusia akan pulang tanpa membawa apa pun selain amal dan jejak kemanusiaannya.

Qurban dan Psikologi Melepaskan
Jika Haji mengajarkan manusia melepaskan ego, maka Qurban mengajarkan manusia melepaskan keterikatan. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sering terdengar akrab karena terus diulang setiap tahun. Namun justru karena terlalu sering didengar, manusia kadang lupa betapa berat ujian itu secara emosional. Bayangkan seorang ayah yang menunggu anak begitu lama, lalu diminta merelakan apa yang paling dicintainya.

Dalam teori psikologi perkembangan Erik Erikson, manusia dewasa sejatinya akan terus menghadapi konflik antara keterikatan dan keikhlasan. Pada fase tertentu, manusia belajar membangun cinta, relasi, dan makna hidup. Namun kedewasaan emosional tidak berhenti pada kemampuan mencintai, melainkan juga kemampuan merelakan.
Karena itu, Qurban sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang sangat manusiawi: bahwa cinta pun bisa berubah menjadi keterikatan yang menguasai jiwa. Hari ini, “Ismail” dalam hidup manusia mungkin bukan lagi seorang anak. Ia bisa berupa ambisi yang dipertahankan mati-matian, relasi yang diam-diam melukai diri, obsesi terhadap pengakuan, atau kebutuhan untuk selalu dianggap sempurna.

Dalam psikologi modern, keterikatan berlebihan terhadap sesuatu sering melahirkan kecemasan kronis. Manusia takut kehilangan, takut ditinggalkan, takut gagal memenuhi standar sosial. Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan tanpa akhir untuk mempertahankan apa yang sebenarnya fana. Padahal, salah satu tanda kematangan psikologis adalah kemampuan menerima perubahan dan kehilangan tanpa kehilangan makna hidup itu sendiri.

Karena itu, Qurban tidak pernah berhenti pada penyembelihan hewan. Ada penyembelihan lain yang jauh lebih sunyi: menyembelih kesombongan, kerakusan, dendam, dan ego yang terlalu dipenuhi dunia. Dan mungkin pertanyaan paling penting selama Dzulhijah bukanlah “hewan apa yang kita sembelih?”, melainkan: apa yang sebenarnya perlu kita lepaskan agar jiwa ini kembali sehat?

Dzulhijah dan Perkembangan Sosial Manusia
Di tengah meningkatnya individualisme global, Dzulhijah juga membawa pesan sosial yang kuat. Qurban bukan hanya ibadah personal, tetapi mekanisme sosial untuk membangun empati dan solidaritas. Sosiolog Émile Durkheim pernah menjelaskan bahwa ritual keagamaan memiliki fungsi memperkuat solidaritas kolektif masyarakat. Ketika manusia berkumpul dalam pengalaman spiritual yang sama, mereka tidak hanya sedang menjalankan ritual, tetapi juga sedang memperbarui rasa keterhubungan sosial.

Hal ini tampak jelas dalam ibadah Qurban. Daging yang dibagikan bukan sekadar simbol sedekah, tetapi simbol bahwa kebahagiaan tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Ada nilai distribusi sosial, kepedulian, dan pengakuan terhadap martabat sesama manusia. Dalam konteks masyarakat modern yang semakin kompetitif, pesan ini terasa sangat relevan. Kita hidup di zaman ketika kesuksesan sering diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, bukan seberapa besar manfaat yang diberikan. Akibatnya, relasi sosial perlahan berubah menjadi relasi transaksional. Orang dihargai karena produktivitasnya, bukan kemanusiaannya. Di sinilah Dzulhijah menghadirkan kritik moral yang lembut namun mendalam: bahwa manusia tidak bisa hidup sehat jika hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Teori perkembangan sosial juga menunjukkan bahwa masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang bebas konflik semata, tetapi masyarakat yang memiliki empati sosial tinggi dan kemampuan berbagi beban bersama. Dalam bahasa agama, itulah makna ukhuwah dan kepedulian sosial. Karena itu, qurban sejatinya bukan hanya tentang memberi daging kepada yang membutuhkan, tetapi tentang mengikis sifat egoistik yang perlahan tumbuh dalam diri manusia modern.

Untuk Kita yang Tidak Sedang Berhaji
Tidak semua orang tahun ini bisa berdiri di Arafah. Tidak semua mampu berangkat ke tanah suci. Tetapi mungkin memang tidak semua panggilan Tuhan harus dijalani dengan perjalanan jauh. Ada yang dipanggil lewat kesabaran menghadapi hidup. Ada yang dipanggil lewat kemampuan berbagi di tengah keterbatasan. Ada yang dipanggil lewat perjuangan menundukkan dirinya sendiri.
Barangkali Dzulhijah bisa dimulai dari hal-hal kecil: memperbanyak dzikir, mengurangi kebisingan hidup, lebih jujur mendengar isi hati sendiri, atau belajar berdamai dengan luka-luka yang selama ini disembunyikan.
Ada satu latihan sederhana yang terasa relevan di tengah kehidupan modern yang serba bising: membuat “daftar pelepasan”.

Menulis hal-hal yang selama ini terlalu mengikat hati—rasa takut, kebiasaan buruk, relasi yang melelahkan, obsesi untuk selalu terlihat sempurna—lalu perlahan belajar merelakannya. Karena tidak semua hal harus dipertahankan. Sebagian luka justru sembuh ketika manusia berhenti menggenggam terlalu erat.

Pulang dengan Hati yang Lebih Lapang
Pada akhirnya, Dzulhijah akan berlalu seperti bulan-bulan lain. Takbir perlahan menghilang dari pengeras suara. Jalanan kembali biasa. Orang-orang kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi semoga ada sesuatu yang tertinggal di dalam hati manusia: kesadaran bahwa hidup bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang belajar menempatkan segala sesuatu secara proporsional.

Psikologi modern menyebut salah satu tanda kedewasaan manusia adalah kemampuan menerima ketidaksempurnaan hidup tanpa kehilangan harapan. Agama mengajarkan hal yang serupa: ikhlas bukan berarti menyerah, melainkan menerima bahwa manusia tidak pernah benar-benar memiliki apa pun sepenuhnya. Tubuh ini titipan. Harta ini titipan. Bahkan orang-orang yang kita cintai pun titipan.

Karena itu, jika Haji dan Qurban benar-benar dipahami, manusia seharusnya tidak keluar dari Dzulhijah sebagai pribadi yang sama. Ia pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan, lebih lembut, dan lebih mampu memanusiakan sesama. Dan mungkin, di situlah makna terdalam ibadah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi perlahan mengubah cara manusia menjalani kehidupannya.

Penulis: Moh. Ja’far Sodiq Maksum Dosen Universitas KH. A. Wahab Hasbullah Jombang

Tags: Idhul Adha Momen Idhul Adha