Gambar Ilustrasi dibuat melalui AI.
ENDE, WacanaNews.co.id — Meteran pulsa listrik pelanggan PLN di Desa Watumite, Kecamatan Nangapenda, diblokir PLN. Warga menyebut pemblokiran justru menambah beban di tengah kerusakan peralatan dan kondisi ekonomi desa yang sulit. Kamis, (14/05/26).
Bantuan proyek penerangan bagi desa terisolir yang seharusnya meringankan, kini berbalik menjadi masalah. Sejak 2012, PT Tenaga Surya Lampu Sehen melakukan sosialisasi dan pemasangan lampu sehen dengan skema cicilan Rp35.000 per bulan selama empat tahun.
“Ketika listrik masuk, masyarakat tidak perlu membayar meteran sekaligus instalasi pemasangan meteran, terhitung sesuai harga meteran,” ungkap salah satu pelanggan yang meterannya diblokir, Forlan.
Kini Forlan bingung harus membayar. “Bagaimana mau bayar sedangkan lampu sudah rusak bahkan sebagian peralatannya sudah tidak ada di tempat,” ujarnya.
Kades: Saya Minta PLN Buka Blokir Dulu
Kepala Desa Watumite, Kristoforus Ariyanto Dei Siu, mengakui peristiwa tersebut. Ia mengaku belum menjabat saat program Lampu Sehen masuk.
“Perihal masuknya program Lampu Sehen saya belum menjadi kepala desa, jadi saya belum tahu pasti,” ujar Yanto.
Meski begitu, ia merasa bertanggung jawab menyelesaikan persoalan warganya. Yanto meminta PLN memberikan data pelanggan yang sudah membayar agar bisa diproses.
“Sebagai kepala desa untuk memastikan kenyamanan dan sebagai perwujudan tanggung jawab, saya juga minta agar listrik tetap dinyalakan atau tidak blokir nomor meter agar dapat mengisi pulsa. Pelunasan utang akan tetap dilakukan dengan cicil,” katanya.
Ia juga meminta pengertian PLN karena kondisi keuangan masyarakat Watumite sedang sulit. “Masyarakat gelap di malam hari tak tertolong,” tambah Yanto.
PLN Ende: Seharusnya Lapor Lebih Cepat
Manager PLN Ende mengatakan, seharusnya masyarakat melaporkan lebih cepat agar bisa ditindaklanjuti. Menurutnya, pemblokiran nomor meteran resmi dilakukan PLN agar pembayaran utang Lampu Sehen segera dilunasi.
“Meskipun pencabutan peralatan, utangnya masih terekam,” ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi jalan rusak membuat peralatan sulit dibawa keluar. Setelah dikonfirmasi, ada pelanggan yang tadinya nomor meteran diblokir kini sudah dibuka kembali dan bisa mengisi pulsa.
Namun kondisi hari ini, beberapa rumah sudah padam karena pemblokiran belum dibuka.
Beban Ganda di Tengah Efisiensi
Kasus Watumite muncul ketika negara tengah mendorong efisiensi anggaran. Di sisi lain, masyarakat berpenghasilan rendah justru diterpa beban pajak, bea, dan retribusi.
Proyek penerangan yang dimaksudkan membantu desa terisolir kini menjadi beban baru. Warga berharap PLN dan pemerintah desa segera duduk bersama agar listrik bisa menyala kembali tanpa menunggu proses pelunasan yang belum jelas. (ykb/jal)