Mahasiswa UNWAHA Selenggarakan Sekolah Tani

unwaha
Sekolah Tani Mahasiswa Unwaha Jombang. (istimewa)

JOMBANG, WacanaNews.co.id– Mahasiswa Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) menggelar program Sekolah Tani di Balai Desa Asemgede, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program kerja bidang pertanian KKN UNWAHA 2026 dengan mengusung semangat “Belajar Bersama, Bertani Lebih Cerdas.”

Sekolah Tani tersebut diarahkan menjadi ruang belajar bersama antara petani, penyuluh, pemerintah desa dan mahasiswa, untuk meningkatkan kapasitas petani sekaligus mencari alternatif solusi atas berbagai persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat. Ketua Panitia Sekolah Tani, Akhmad Asadurroshin, mengatakan kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai penyuluhan, melainkan sebagai forum berbagi pengalaman dan berdiskusi secara langsung dengan petani.

“Sekolah Tani ini kami harapkan menjadi ruang belajar bersama. Petani tidak hanya menerima materi, tetapi juga dapat menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi di lapangan, sehingga solusi yang dibangun benar-benar berangkat dari kebutuhan petani,” ujarnya.

Salah satu materi utama yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut adalah pemanfaatan mikoriza sebagai alternatif dalam mendukung pemupukan tanaman, terutama ketika terjadi keterbatasan atau kelangkaan pupuk. Materi disampaikan oleh Dr. Roosmarrani Setiawati, S.P., M.Sc., narasumber yang hadir dari Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan. Dalam pemaparannya, Dr. Roosmarrani menjelaskan potensi mikoriza dalam mendukung pertumbuhan tanaman serta pemanfaatannya sebagai salah satu alternatif dalam pengelolaan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Tidak berhenti pada penjelasan teori, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai cara membuat dan memperbanyak mikoriza, sehingga teknologi tersebut diharapkan dapat dipahami dan dikembangkan secara lebih mandiri oleh masyarakat. Pengenalan mikoriza juga dikaitkan dengan upaya mendorong penggunaan input pertanian yang lebih berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia secara berlebihan.

Program Sekolah Tani menjadi semakin relevan karena karakter geografis Desa Asemgede yang berada di kawasan perbukitan lereng Gunung Kendeng. Kondisi tersebut menjadikan pengelolaan lahan dan peningkatan produktivitas pertanian sebagai salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UNWAHA Kelompok 24, Moh. Ja’far Sodiq, M., menilai pemanfaatan mikoriza memiliki prospek untuk dikembangkan di wilayah dengan karakteristik lahan marjinal seperti Asemgede.

“Mikoriza sangat cocok untuk kawasan marjinal, seperti Desa Asemgede yang terletak di area perbukitan lereng Gunung Kendeng. Karena itu, pengetahuan seperti ini penting untuk dikenalkan kepada petani agar mereka memiliki alternatif dalam mengelola kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan program KKN tidak cukup diukur dari terlaksananya sebuah kegiatan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan yang dibawa mahasiswa dapat diterima, dipraktikkan, dan dikembangkan oleh masyarakat.

“Mahasiswa hadir bukan untuk menggurui petani. Justru mahasiswa harus belajar dari pengalaman petani, kemudian mempertemukannya dengan pengetahuan akademik dan teknologi yang relevan,” tambahnya.

Selain mikoriza, Sekolah Tani juga membahas sejumlah isu penting dalam pengembangan pertanian masyarakat Asemgede. Materi yang disiapkan meliputi pentingnya Sekolah Tani dalam meningkatkan kapasitas petani, strategi meningkatkan produktivitas padi dan jagung, pengelolaan kesuburan tanah lempung, pemupukan berimbang dan alternatif pupuk organik, serta Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida.

Diskusi juga memberikan ruang kepada petani untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, khususnya terkait pupuk bersubsidi dan solusi yang dapat ditempuh. Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan pada penguatan pengetahuan petani mengenai pertanian berkelanjutan, adaptasi terhadap perubahan iklim, kesehatan tanah, dan pemanfaatan potensi lokal.

Kegiatan Sekolah Tani diikuti oleh para petani dari Kelompok Tani (Poktan) Sumber Rejeki 1 dan Sumber Rejeki 2, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ngusikan, perangkat Desa Asemgede, mahasiswa KKN UNWAHA, serta DPL KKN UNWAHA Kelompok 24.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam membangun sektor pertanian. Petani memiliki pengalaman lapangan, penyuluh memiliki pendampingan teknis, akademisi dan mahasiswa membawa perspektif pengetahuan, sedangkan pemerintah desa berperan dalam memperkuat dukungan kelembagaan.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 24, Sekolah Tani juga menjadi bagian dari proses pembelajaran langsung di tengah masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga belajar memahami persoalan riil yang dihadapi petani. Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan semangat KKN UNWAHA 2026 bahwa pengabdian bukan sekadar datang dan menjalankan program, melainkan membangun pengetahuan bersama dan mencari solusi bersama masyarakat.

Melalui Sekolah Tani, KKN UNWAHA Kelompok 24 berharap lahir kesadaran baru bahwa petani yang kuat adalah fondasi pangan yang berdaulat, sementara peningkatan produktivitas harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan lingkungan.

“Disiapkan untuk petani, oleh petani, bersama petani” menjadi semangat utama kegiatan tersebut—mendorong Desa Asemgede untuk terus belajar, berinovasi dan mengembangkan pertanian yang semakin produktif serta berkelanjutan. (pras/jal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *