ENDE, WacanaNews.co.id — Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) di salah dusun Okodede, Desa Wolomuku, Kecamatan Detukeli yang berada di wilayah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, hingga saat ini belum menikmati akses penerangan listrik.
Kondisi ini telah berlangsung sejak jaman penjajahan, dan keluhan masyarakat sejauh ini belum mendapatkan jawaban dari pemerintah maupun pihak terkait.
Tanpa aliran listrik, warga desa tersebut selama ini bergantung pada lampu sehen dan lampu pelita untuk penerangan malam hari. Sumber cahaya yang sangat terbatas ini pun kian sulit digunakan saat musim hujan, di mana kurangnya cahaya dan nyala api sering terganggu.
Kondisi ini berdampak besar pada berbagai aspek kehidupan warga:
Anak-anak sekolah harus berjalan sejauh 1 hingga 1,5 kilometer pulang pergi hanya untuk menempuh perjalanan ke sekolah. Belum lagi saat malam tiba, mereka terpaksa belajar di bawah penerangan yang sangat minim dan tidak memadai. Hal ini jelas mengganggu konsentrasi dan kesehatan mata anak-anak.
Dampak paling memilki dirasakan pada sektor kesehatan. Ibu-ibu hamil yang hendak melahirkan harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit dalam kondisi gelap malam, karena tidak ada akses penerangan maupun sarana transportasi yang layak. Jalan yang sulit ditambah ketiadaan lampu jalan meningkatkan risiko keselamatan nyawa ibu dan bayi.
Kegiatan ekonomi warga juga sangat terbatas. Saat matahari terbenam, aktivitas masyarakat praktis berhenti karena tidak ada penerangan yang memadai untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga maupun usaha kecil. Warga juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar lampu yang harganya terus naik.
Sampai saat ini, keluhan masyarakat hanya pernah disampaikan kepada Pemerintah Desa, namun belum pernah diteruskan maupun dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten maupun pihak PLN. Bahkan, belum pernah ada survei maupun kunjungan petugas PLN ke dusun tersebut untuk meninjau kondisi lapangan.
“Kami datang ke sini karena kami butuh betul penerangan. Biar dulu jalan, kami butuh listrik,” ujar perwakilan warga, Makarius Ghawa dengan harapan yang tulus menemui petugas PLN Ende.
Warga juga menyatakan siap bergotong royong membantu proses pembangunan jaringan listrik jika nantinya dilaksanakan.
Warga memohon kepada Pemerintah Kabupaten Ende dan PLN untuk segera meninjau lokasi dan merealisasikan akses listrik bagi 21 KK yang selama ini tertinggal. Bagi mereka, listrik bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang mendesak demi masa depan anak-anak, keselamatan kesehatan, dan peningkatan ekonomi keluarga.
Semoga suara kecil dari pelosok desa ini didengar dan segera ditindaklanjuti. Penerangan yang setara adalah hak setiap warga negara, di mana pun mereka berada. (yms/jal)






